Situs Watu Adeg terletak di Padukuhan Mlakan RT 05, sebuah kawasan yang masih menyimpan suasana pedesaan yang tenang dan kental dengan nilai-nilai budaya lokal. Situs ini berupa sebuah batu besar yang berdiri menjulang dengan ketinggian mencapai kurang lebih 10 meter. Karena bentuknya yang tegak lurus dan tampak kokoh, masyarakat kemudian menamainya Watu Adeg, yang secara harfiah berarti “batu berdiri”.
Menurut penuturan juru kunci Watu Adeg, yaitu Mbah Tukiyo, keberadaan batu ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Konon, Watu Adeg sering digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi atau berdoa bagi para leluhur. Energi alami dari tebing perbukitan serta ketenangan lingkungan sekitar dipercaya mendukung aktivitas spiritual tersebut. Masyarakat juga mempercayai bahwa di dalam batu tersebut tersimpan sebuah pusaka yang disebut “wesi kuning”, yang dipercaya memiliki kekuatan khusus, terutama yang berkaitan dengan ilmu kekebalan atau perlindungan diri.
Kepercayaan terhadap keberadaan pusaka tersebut semakin meneguhkan posisi Watu Adeg sebagai tempat yang sacral bagi warga setempat. Hingga kini, situs ini tetap dijaga dan dihormati oleh masyarakat sekitar. Nilai-nilai tradisi dan penghormatan terhadap leluhur masih sangat dijunjung tinggi, terlihat dari adanya kebiasaan warga untuk melakukan tradisi “ngguwangi” setiap kali hendak melaksanakan hajatan atau acara penting. Tradisi ini berupa pemberian sedekah atau sesaji di lokasi Watu Adeg sebagai bentuk permohonan doa restu agar hajat berjalan lancar dan diberi keselamatan.
Selain mengandung nilai sejarah dan spiritual, keberadaan Situs Watu Adeg juga menjadi simbol identitas lokal yang mencerminkan hubungan harmonis antara masyarakat Mlakan dengan alam serta warisan budaya nenek moyang. Hingga kini, Watu Adeg tetap menjadi situs yang dipelihara dengan rasa hormat, sekaligus menjadi bagian penting dari cerita perjalanan budaya Kalurahan Sambirejo.
