Petilasan yang berada di puncak perbukitan kawasan Gunung Ijo atau Candi Rejo dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat bersejarah yang menyimpan jejak spiritual penting. Menurut cerita warga dan penuturan juru kunci, dahulu lokasi ini merupakan kediaman sepasang pengembara bernama Kyai Poleng dan Nyai Poleng. Keduanya dikenal sebagai tokoh sakti yang menjadi pelindung wilayah Gunung Ijo pada masa peperangan, meskipun tidak diketahui secara pasti konflik apa yang terjadi pada masa tersebut.
Di akhir perjalanan hidupnya, Kyai Poleng dan Nyai Poleng diyakini moksa di tempat itu, tepatnya di bawah atau di sela batu besar yang kini dikenal sebagai Petilasan Kyai Poleng. Hingga sekarang, keyakinan dan tradisi masyarakat masih terjaga. Menurut sang juru kunci, Mbah Ranto Wiyono, setiap datang bulan Suro—khususnya tanggal 1 Suro—petilasan ini kerap dikunjungi oleh orang-orang yang ingin berdoa, melakukan laku batin, atau bermeditasi untuk memohon ketenangan dan keselamatan.
Selain menyimpan nilai sejarah dan spiritual, petilasan ini juga memiliki pantangan yang masih dipegang teguh oleh warga sekitar. Salah satunya adalah larangan mengenakan busana bercorak gadung melati serta memakai aksesoris berupa klinting. Kedua hal tersebut dianggap menyerupai atribut Kyai Poleng sehingga dikhawatirkan dapat dianggap tidak sopan atau melanggar tatanan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Petilasan Kyai Poleng tetap menjadi salah satu titik penting yang menandai kekayaan tradisi, spiritualitas, dan kultur masyarakat di lereng Gunung Ijo—sebuah warisan yang terus dijaga hingga hari ini.
